June 2013
2 posts
May 2013
8 posts
April 2013
11 posts
Tepatnya artikel ini adalah sebuah pertanyaan, yaitu, “Apakah Media Sosial Sudah Mencapai Titik Jenuhnya?”.
Tujuan saya menulis artikel ini adalah karena saya merasakan kejenuhan yang sangat mengenai isi dari media sosial belakangan ini dan mencoba membuat insight mengapa media sosial menjadi jenuh.. Ya, dan salah satunya juga untuk mengisi waktu senggang setelah UN berakhir :)
Era media sosial di Indonesia berkembang pesat sejak Obama memenangkan pemilu pada tahun 2008 silam. Kampanyenya di Facebook membuat media sosial yang satu ini menjadi dikenal oleh masyarakat dunia, yang umumnya masyarakat pada saat itu masih menggunakan Friendster -salah satunya, sebagai alat berinteraksi di internet. Tak ingin ketinggalan, masyarakat Indonesia pun beramai-ramai mendaftarkan dirinya ke akun Facebook.
Saya masih ingat pertama kali saya daftar akun Facebook saat awal Januari 2009. Saat itu masih sedikit orang Indonesia dan teman-teman saya yang terdaftar di jaringan sosial ini. Orang yang memiliki Facebook pada masa itu terkesan kece dan professional. Betapa tidak, saat pendaftaran akun baru, kami sebagai pengguna diminta untuk mencantumkan nama dan identitas asli. It’s something like Facebook will be next-gen KTP.
Sekitar lima bulan kemudian Facebook menjadi jaringan sosial yang hype, seolah wajib dimiliki setiap orang layaknya ‘ktp dunia maya’. Waktu itu saya masih SMP kelas 9. Hal yang sering saya dengar saat itu adalah tidak jauh-jauh dari “Add FB gw ya!”. Instansi pemerintah, swasta, perusahaan, organisasi internasional lambat laun pun turut meramaikan Facebook ini.
Yang saya sukai pada era Facebook saat itu (2009-2010) adalah konten stream yang mengandung konten berkualitas. Mulai dari perbincangan ringan, planning, event, hingga topik diskusi berkualitas. Sehingga kita bisa belajar banyak pengalaman baru di dalamnya. Dan jika kita memposting apapun dalam Facebook saat itu, seolah-olah semua teman Facebook yang kita punya memberi perhatian kepada postingan kita.
Titik jenuh Facebook saya rasakan mulai pertengahan 2011, yaitu ketika mulai banyak teman-teman Facebook yang tidak saya kenal memposting berbagai hal pribadinya seperti curhatan-curhatan, keluhan, bahkan foto yang tidak pantas dipublikasikan. Dan itu menjadi titik balik dari semuanya. Teman-teman diskusi satu persatu menghilang dari streaming, yang sebelumnya sering berbagi ide maupun gagasan. Hingga saat ini konten dari streaming banyak yang belum berubah.
“Kenikmatan akan berkurang bila menggunakan alat pemuas kebutuhan dengan satu barang yang sama secara terus menerus” - Hukum Gossen 1. Ditambah lagi dengan faktor di atas, maka saya pun berinisiatif mencari media sosial lainnya.
Kembali ke tahun 2009. Selang beberapa bulan setelah membuat Facebook, saya juga mendaftarkan akun di Twitter dengan nama @navy_hexa (lalu diganti dengan nama @hexacreative). Tak kalah serunya, Twitter mempunyai efek positif yang luar biasa. Di sini saya Alhamdulillah dapat berkenalan dengan berbagai komunitas dan memulai relasi dengan orang-orang, terutama yang memiliki passion dalam bidang IT dan bisnis.
Pengguna Twitter di Indonesia pada saat itu cukup aktif. Dampaknya adalah bermunculan berbagai kegiatan sosial hingga pemuda yang dimulai dari sini. Generasi pada masa #IndonesiaUnite, #YOT, #KulTwit, Obsat, #IndonesiaBerkebun, #ACT, saya rasa adalah generasi emas Twitter yang menjadi pioner dari berbagai kegiatan sosial/pemuda di dunia nyata yang diikuti oleh banyak kalangan Juga betapa kompaknya saat itu untuk membuat sebuah gagasan. Timeline ramai dengan diskusi aktif.
Namun, sekitar quartal tiga tahun 2012 aksi-aksi kegiatan seperti itu sudah jarang bermunculan. Padahal, kegiatan-kegiatan seperti itu yang dibutuhkan untuk menumbuhkan semangat baru - terutama pemuda/masyarakat - yang seringkali butuh untuk ‘diingatkan’ bahwa di luar sana terdapat faktor-faktor sosial kemasyarakatan yang memerlukan kontribusi kita. Bagi yang mendaftar Twitter baru-baru ini mungkin tidak merasakan masa-masa tersebut. Itupun juga menjadi awal dari titik jenuh saya di Twitter.
Terasa banyak sekali teman-teman di Twitter yang sudah tidak aktif mengupdate tweetnya. Kemana perginya mereka? Apakah Path, WhatsApp, Line, WeChat menjadi pengganti media sosial yang lalu? Atau semangat yang sudah redup? jangan sampai…
Jadi, akankah ada media sosial selanjutnya yang akan menyatukan lagi seluruh pengguna yang ingin merealisasikan gagasan hebatnya untuk kebermanfaatan hidup ini? Kegiatan-kegiatan seperti itu tentu diperlukan berkelanjutan. Jangan sampai, penggunaan media sosial hanya untuk mengajak kebaikan sesaat. Media sosial belum mencapai titik jenuhnya, hingga kita aktif memakainya untuk berbagi ilmu, dan mengajak untuk berbuat kebaikan secara berkala.
Semoga menginspirasi, just my little insight.
Nafi’ A. Putrawan
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
1989
(Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono, hal. 90)
- Salah satu soal yang ada dalam UN Bahasa Indonesia 2013. Perintahnya adalah melengkapi salah satu larik puisi tersebut. Sempat lupa awalnya, namun karena musikalisasi puisi ini pernah saya dengar, maka Alhamdulillah larik tersebut dapat terisi setelah mengingat-ingat nadanya.